LPRIS

  • Pekarangan
  • Profil
    • Latar
    • Visi dan Misi
    • Program Kerja
  • Seri Kuliah Sosial dan Budaya
    • Kuliah Budaya
    • Kuliah Sosial
    • Diskusi
  • Ebook
    • Buku Sosial
    • Buku Politik
    • Buku Teori
    • Buku Sastra dan Budaya
  • Ragam Tulisan
    • Berita
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Hasil Penelitian LPRIS

Sabtu, 12 Desember 2015

Sinopsis Film Bercermin

 Elpris     04.53     Esai     1 comment   



Permata tak ingin menjadi dewasa. Semakin bertambah usianya, membuatnya semakin terasing dan terpenjara. Tetapi mau tidak mau, ia tak bisa menghindar dari jeratan jaring yang memerangkapnya. Permata tak berdaya melawan. Badai frustasi sudah mulai menghampirinya, andaikata tak bisa keluar, dia akan menjadi gila. Namun, lama-kelamaan ia menjadi sadar bahwa sesuatu yang memasung dirinya tak lain adalah dirinya sendiri. Dari sinilah cerita bermula.

Sejak merasa dirinya terpasung, ia mulai mengalami stres dan temperamental. Ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia berfikir keras untuk bisa bebas dari kungkungan dirinya sendiri. Awalnya ia tak berani menatap dirinya di depan cermin. Apapun cara dilakukannya untuk menghindar dari sosok dirinya di dalam cermin. Namun lama-lama ia mulai kesal karena seolah-olah ia terus diintai, seakan-akan tiada tempat untuk lari. Permata mulai menantang sosok dirinya, secara frontal, ia berontak dengan menggebrak cermin di depannya. Sia-sia perlawanannya, semakin ia melawan semakin sosok itu balik menyerang, bahkan lebh keras. Sampai akhirnya ia putus asa dan mulai kembali dengan keadaannya semula. Selang beberapa lama dia tahu bahwa kondisinya lebih buruk dari keadaannya semula. Ia mulai mencari akal untuk mengalahkan sosok di balik cermin itu. Ia yakin ia masih bisa hidup tanpa terus diintai oleh sosok itu.

Demi melawan cermin, maka Permata menghadapinya dengan cermin. Cermin satu akan memantulkan bayangannya di cermin kedua, begitu juga sebaliknya. Dengan begitu maka sirkulasi bayangan akan terperangkap dalam logika dua cermin. Tetapi rupanya ini hanyalah kemenangan sesaat. Ia tak bisa terus-menerus memegangi cermin untuk menghadapi cermin di depannya. Dalam kondisi ini juga, ia menjadi buta, tak bisa melihat apapun karena tertutup cermin yang dipegangnya. Mata rupanya menjadi satu-satunya yang harus dikorbankan untuk mengatasi persoalan ini semua. Mata juga menjadi harapan bagi dirinya untuk bisa merdeka dari perangkap cermin dan sosok dirinya. Dan pada akhirnya, ia memilih untuk menutup matanya dengan merekatkan cermin di depan mukanya. Sampai ia tahu bahwa kehilangan penglihatan adalah sebuah kemerdekaan bagi dirinya. Permata benar-benar bisa lepas dari sosok dirinya dalam cermin, dan berhasil mengalahkannya dengan telak. Kenikmatan primordial di masa kecilnya dapat dinikmatinya kembali di masa dewasanya. Ia bisa melakukan apapun yang dia suka, bahkan sesuatu yang tak mungkin sekalipun, yang tak bisa dilakukan orang-orang, yakni berdandan di depan cermin tanpa melihat, memilih baju-baju sesuka hati dan membuang yang tak perlu. Permata sudah merdeka sejak dalam pikiran.


Cermin diibaratkan sebagai norma sosial yang memberikan label dan identitas kepada seseorang.
Film ini mengisahkan tentang bagaimana sesorang bisa melampaui berbagai macam identifikasi/identitas dan menjadi dirinya sendiri yang bebas dan merdeka. Kembali kepada kenikmatan primordial ketika ia belum mengenal bahasa.
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke Facebook
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

1 komentar:

  1. Anonim27 Januari 2022 pukul 19.03

    Emperor Casino Slot Game Review - ShootEmCasino
    Emperor Casino is a casino from Playtech, and you'll find it in febcasino the Playtech online casino software store. 메리트카지노총판 The company was founded in 2015, but 제왕카지노 is

    BalasHapus
    Balasan
      Balas
Tambahkan komentar
Muat yang lain...

Label

  • Buku Politik
  • Buku Sosial
  • Cerpen
  • Diskusi
  • Esai
  • Puisi
  • Seri Kuliah Budaya
  • Seri Kuliah Sosial

Popular Posts

  • Sinopsis Film Bercermin
    Permata tak ingin menjadi dewasa. Semakin bertambah usianya, membuatnya semakin terasing dan terpenjara. Tetapi mau tidak mau, ia tak...
  • Jacques Lacan - Psikoanalisa
    Kuliah Umum : Jacques Lacan dalam Pascastrukturalisme, oleh St. Sunardi. Diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat UGM. Didokumentasikan ...
  • Dalih Pembunuhan Massal – John Rossa
    Dalih Pembunuhan Massal – John Rossa https://drive.google.com/file/d/0Byu9yVab99m1T044SElJTFkwMUU/view?usp=sharing
  • Mata Lena
    Oleh Yongky Gigih Prasisko Oeek... Oeek... Oeekk.. Hari bahagia itu telah tiba, tangisan yang kutunggu-tunggu selama 29 tahun, akhi...
  • Latar Lembaga
    Lembaga Penelitian Rekonsiliasi dan Integrasi Sosial bergerak di bidang sosial dan budaya, lebih khususnya perihal rekonsiliasi dan int...
  • Diskusi buku Sarwo Edhie dan Tragedi 65
    Diskusi buku Sarwo Edhie dan Tragedi 65. Diselenggarakan oleh Social Movement Institute bersama Toko Buku Togamas, Stube Hemat dan Tribu...
  • Program Kerja
    LPRIS memiliki program kerja yang dilakukan baik secara periodik maupun insidental, antara lain: Melakukan penelitian, kajian da...
  • Traumatis
    Oleh Jean Couteau* Diguyur hujan musim dingin, sambil berjalan-jalan mencari bus di kota Nantes, Perancis, saya membayangkan ...
  • Friedrich Nietzsche - Nihilisme
    Kuliah Umum – Friedrich Nietzsche oleh Romo Setyo Wibowo, tanggal 28-29 April 2015. Diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat UGM. Didok...
  • (tanpa judul)
    Seminar Para Pemikir Besar, Wolfgang Iser – The Act of Reading. Hari Rabu, tanggal 25 Maret 2015. Diselenggarakan oleh Program Pascasarj...

Blog Archive

  • ▼  2015 (29)
    • ▼  Desember (4)
      • Traumatis
      • Sinopsis Film Bercermin
      • Jurnalisme dan Media Baru
      • Medea dan Siti : Potret Perempuan Real dan Palsu
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (23)

Mengenai Saya

Foto saya
Elpris
Lihat profil lengkapku
LPRIS. Diberdayakan oleh Blogger.

Lembaga Penelitian Rekonsiliasi dan Integrasi Sosial


Copyright © LPRIS | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates