LPRIS

  • Pekarangan
  • Profil
    • Latar
    • Visi dan Misi
    • Program Kerja
  • Seri Kuliah Sosial dan Budaya
    • Kuliah Budaya
    • Kuliah Sosial
    • Diskusi
  • Ebook
    • Buku Sosial
    • Buku Politik
    • Buku Teori
    • Buku Sastra dan Budaya
  • Ragam Tulisan
    • Berita
    • Esai
    • Cerpen
    • Puisi
  • Hasil Penelitian LPRIS

Minggu, 18 Oktober 2015

Jahitan di Kursi Tua

 Elpris     06.14     Puisi     No comments   

Oleh Yongky Gigih Prasisko

Menjahit kain dalam temaram yang lanjut
Jarummu kau simpan agar tak menusuk hati cucumu
Rajutan harapanmu selalu kau tunjukan melalui benang

Sampai kapan kau terus menjahit..

Kebayamu yang kusut tak kau tunjukkan pada anak-anakmu
Berjalanmu menandakan kau begitu sulit meninggalkan kasih sayangmu
Keriputmu adalah suatu tanda dari masa lalumu
Nafasmu begitu jelas menghampiri setiap langkah anak-cucumu

Sampai kapan kau duduk di kursi tua..

Rajutanmu telah meninggalkanmu
Ku yakin kau tak berharap sekilaspun
Setelah semua kasih yang kau tuangkan tumpah dan berlalu
Hanya dalam satu ungkapan..
Bu.. saya pamit..
Nek.. saya pamit..
Hanya usapan ikhlas yang sanggup kau sampaikan
Dengan menyimpan beribu tetesan air mata
untuk menyelesaikan kain rajutanmu..

Hampir seabad waktu kau telusuri
Hanya untuk menjahit di kursi tua

Tiap senja kau mengetuk pintu
Nak apa kau ada di rumah?
Tanpa jawaban
Kau mengetuk lagi dengan tongkatmu
Nak nenek bukakan pintu?
Tanpa suara
Kau duduk sepanjang malam menunggu anak-cucumu membukakan pintu
Sampai akhirnya pintu itu terbuka
Sekilas..
Lalu tertutup lagi
Kau lega karena kau telah melihat wajah anakmu yang merangkul cucumu

Genangan air hujan menerima tetesan air mata kasihmu
Kau kembali merajut jahitanmu
Sampai saat itu tiba
Bentakan kata dari anakmu
Pecahan piring dari cucumu
Kau punguti runtuhan kasihmu perlahan
Hingga kau berdarah karena jarum jahitanmu

Nek, sudahlah selesaikan jahitanmu..

Tapi kau merasa masih kuat menjahit
Kau rajut kembali jahitan yang tercerai-berai
Dengan sabar kau memulai dari awal
Perlahan dan perlahan..
Kau merajut dengan gemetar
Kursi tuamu pun sudah reyot
Pertanda kau harus segera berhenti
bukan hanya itu..
berhentilah karena jari-jarimu telah becucuran darah
Jarum itu telah melukaimu

Kau berkata..
“Jahitanku belum selesai
Aku akan berhenti setelah rajutanku menjadi sebuah kenangan utuh
Yang akan kubungkus hanya untuk anak-anakku
Hanya untuk cucu-cucuku”

Hingga akhirnya kursi tua itu telah menjatuhkanmu
Matamu masih berair
Dan jarum itu terjatuh ke tanah
Setetes darahmu menetes bersama jatuhnya
Dengan meninggalkan
Rajutanmu..
Jahitanmu..
Yang masih belum selesai..


  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke Facebook
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar

Label

  • Buku Politik
  • Buku Sosial
  • Cerpen
  • Diskusi
  • Esai
  • Puisi
  • Seri Kuliah Budaya
  • Seri Kuliah Sosial

Popular Posts

  • Sinopsis Film Bercermin
    Permata tak ingin menjadi dewasa. Semakin bertambah usianya, membuatnya semakin terasing dan terpenjara. Tetapi mau tidak mau, ia tak...
  • Jacques Lacan - Psikoanalisa
    Kuliah Umum : Jacques Lacan dalam Pascastrukturalisme, oleh St. Sunardi. Diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat UGM. Didokumentasikan ...
  • Dalih Pembunuhan Massal – John Rossa
    Dalih Pembunuhan Massal – John Rossa https://drive.google.com/file/d/0Byu9yVab99m1T044SElJTFkwMUU/view?usp=sharing
  • Mata Lena
    Oleh Yongky Gigih Prasisko Oeek... Oeek... Oeekk.. Hari bahagia itu telah tiba, tangisan yang kutunggu-tunggu selama 29 tahun, akhi...
  • Latar Lembaga
    Lembaga Penelitian Rekonsiliasi dan Integrasi Sosial bergerak di bidang sosial dan budaya, lebih khususnya perihal rekonsiliasi dan int...
  • Diskusi buku Sarwo Edhie dan Tragedi 65
    Diskusi buku Sarwo Edhie dan Tragedi 65. Diselenggarakan oleh Social Movement Institute bersama Toko Buku Togamas, Stube Hemat dan Tribu...
  • Program Kerja
    LPRIS memiliki program kerja yang dilakukan baik secara periodik maupun insidental, antara lain: Melakukan penelitian, kajian da...
  • Traumatis
    Oleh Jean Couteau* Diguyur hujan musim dingin, sambil berjalan-jalan mencari bus di kota Nantes, Perancis, saya membayangkan ...
  • Friedrich Nietzsche - Nihilisme
    Kuliah Umum – Friedrich Nietzsche oleh Romo Setyo Wibowo, tanggal 28-29 April 2015. Diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat UGM. Didok...
  • (tanpa judul)
    Seminar Para Pemikir Besar, Wolfgang Iser – The Act of Reading. Hari Rabu, tanggal 25 Maret 2015. Diselenggarakan oleh Program Pascasarj...

Blog Archive

  • ▼  2015 (29)
    • ►  Desember (4)
    • ►  November (2)
    • ▼  Oktober (23)
      • Game of Thrones : Sebuah Kebangkitan Tragedi Yunani
      • PAMERAN BUKU INTERNASIONAL
      • Invasi Kebudayaan : Dibalik Persaudaraan Jepang-In...
      • Hasil Penelitian LPRIS = Blandongan : Perebutan Ku...
      • Anak Timor Timur di Indonesia – Helene van Klinken
      • Mematahkan Pewarisan Ingatan – Budiawan
      • Pengakuan Bandit Ekonomi (Buku Kedua) – John Perkins
      • Pengakuan Seorang Ekonom Perusak (Buku Pertama) – ...
      • Kapital III – Karl Marx
      • Kapital II – Karl Marx
      • Seminar Para Pemikir Besar, Wolfgang Iser – The...
      • Budi Irawanto - Teori Film
      • Kuliah Umum : Masyarakat Manajerialisme, oleh D...
      • Rembang Melawan
      • Friedrich Nietzsche - Nihilisme
      • Jacques Lacan - Psikoanalisa
      • Thorstein Veblen - Conspicuous Consumption
      • Dalih Pembunuhan Massal – John Rossa
      • Jahitan di Kursi Tua
      • Mata Lena
      • Program Kerja
      • Visi dan Misi
      • Latar Lembaga

Mengenai Saya

Foto saya
Elpris
Lihat profil lengkapku
LPRIS. Diberdayakan oleh Blogger.

Lembaga Penelitian Rekonsiliasi dan Integrasi Sosial


Copyright © LPRIS | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates